Rabu, 16 Februari 2011

Dengan gamblang dia bercerita, tentang hidup, luka, impian dan cita-cita. Lewat tulisan, bukan lisan, Ia mengembara.. menyusupi rentang waktu yang takkan dapat berbalik.

Aku menyusuri halaman demi halaman miliknya. Semua jejaring sosial memang, karena aku tidak akan punya keberanian untuk menanyakan atau menggeledah buku hariannya. haha..
Tapi Ia mampu membuatku seolah berada di sana, mendengarkan langsung tiap kutipan kta-kta yang Ia ucapkan. Mungkin, karena aku sudah cukup lama mengenalnya.

Dan aku memang tidak salah..
Mungkin dia terlihat lemah karena ia cukup sering menangis. Dia juga sangat sering sakit, dan aku sempat menduga dia mengidap sakit yang cukup serius. Namun, dia adalah gambaran kekuatan seorang gadis kecil yang beranjak dewasa. Dan aku terlambat baru menyadarinya sekarang. Dia mungkin tidak pernah tahu, dan akupun tidak bisa mengingatnya sejak kapan kami menjadi 'teman'. Mengingat kami tidak terlalu sering berinteraksi sebelumnya..
Aku menatap namanya yang terpampang di layar saat aku menulis catatan ini.
Sebuah nama yang kuulang saat pertama berkenalan..

Itu sudah hampir 9 tahun yang lalu

Dan aku masih tetap mengagumi sosoknya. Kecerdasanyya sama sekali tidak membuatnya sok pintar dan menggurui. Bahkan Dia mungkin tetap selugu kapas, berbicara apa adanya tanpa tedeng aling-aling. Tapi benar apa yang dia katakan..
Mungkin ucapannya sedikit melukai perasaan, tapi memang sakit yang Ia juga rasakan..

Saat itu, aku juga seorang anak ingusan yang entah harus berkata apa..
Saat dia memintaku menemaninya berhenti sebentar, ditemani segelas jus stroberi yang berakhir dengan uraian air mata.
Tuhan tau yang tebaik, kawan..
Mungkin itu yang harusnya kukatakan.

Ia sering menuliskan kekesalaanya di carik kertas di buku catatan.
Aku ingin sekali memahami perasaanya..
Ketika mimpinya tak lagi memiliki ruang..
Itu akan sangat menyedihkan bukan?
Sakit itu hanya dia yang merasakan..
Aku ini hanya pihak luar yang memandang jari jarak aman tanpa tahu dengan jelas duduk permasalahan sebenarnya.
Namun saat melihat senyumnya mengembang ..aku yakin semua akan baik-baik saja..
Ia masih tetap seperti dulu, terlalu rendah hati untuk dikagumi. Ia menolak untuk dikenali sebagai sosok yang istimewa. Ia memegang prinsip yang kadang justru membuatku berkerut kening. Seringkali aku juga tidak sepaham..tapi aku menyayanginya.

Dia seringkali berlari dari kesedihan, hingga terdampar mencariku di nomor yang memang sudah sekian lama tak berganti. Pernahkah dia tahu, dia hanya perlu bilang kalau membutuhkanku..maka aku akan datang..

Bercerita bersamanya adalah sebuah jalan yang membuat kami bertemu..

Tidak ada komentar: