Minggu, 08 Mei 2011

lagi-lagi, lewat tengah malam

1:08 tertera diujung layar.

Sekali lagi, sembari menunggu loading email yang tak kunjung berakhir. Entah..sudah berapa puluh menit terakhir saya menunggu.

Hidup tidak akan pernah berulang. Bukan hal baru untuk diketahui, tapi saya hanya ingin kembali memikirkannya. Bukan tentang benar atau salah, tapi lebih karena ingin atau tidak ingin. Egoisme dan harga diri seringkali mengambil alih akal sehat. Membelokkan keputusan yang benar menjadi sebuah masalah besar.

Keinginan-keinginan dapat membawa seseorang dalam dua hal. Kejelasan, atau kefatamorganaan. Semuanya serba tergantung, tergantung kepada saya misalnya.

Sungguh lucu jika dipikir-pikir. Bagaimana sesorang dapat berjalan tanpa tahu arah dia akan kemana?

Keberanian hanya berjarak semu dari ketakutan. Selangkah saja seseorang mampu melewatinya, menang sudah. Disitulah, banyak hal baru yang selama ini tertutup rasa takut bagi seorang pengecut.

Apa yang saya anggap baik, belum tentu baik bagi orang lain. Apa yang mereka anggap baik, belum tentu baik pula bagi saya. Kecuali segala hal yang telah jelas tertera dalam kitab, Jelas itu sangat berbeda konteksnya...

Keserakahan, kesombongan, bahkan kehausan akan penghormatan seringkali sebuah pedang bermata dua yang banyak dinikmati para manusia. Bukan karena buta, tapi karena enggan membuka mata. Enggan mengakui bahwa sungguh mereka sama sekali tidak membutuhkan secuilpun dari itu. Hanya sekedar membela perasaan, jika saya boleh katakan.

Dunia ini adalah ajang kompetisi. Bagaimana setiap orang ingin berada di posisi aman. Aman dari segala kemungkinan yang merugikan.
Menang atau kalah tetaplah sebuah keputusan. Tapi saya ingin memandangnya lewat kacamata saya. Menang bukanlah apa kata kolektif suarakan. Menang bagi saya adalah memenangkan hati, membungkamnya. Bukan dengan paksa, namun dengan membuatnya tak ingin lagi membantah.
Menerima apa adanya.
Bercukup dengan segalanya.
Berbahagia di atas duka.

Tidak ada komentar: